Belajar dan Peran Penting Guru
2011-01-19, oleh *Wawan Suwandi, M.Pd.
Ketika Harun Ar Rasyid menyerahkan putranya kepada Guru Ngaji, beliau berkata “Wahai Ahmar, Amirul Muminin telah menyerahkan belahan jiwanya dan buah hatinya kepadamu maka sekarang kamu bebas membentuknya. Ketaatanmu kepadanya wajib maka tunaikanlah pendidikan anaknya sesuai keinginan beliau ajarilah bacaan Al Qur ‘an kenalkanah hadis-hadis nabi, ajarilah untuk mengenal syair-syair dan didiklah sunah-sunah. Awasilah ucapan mereka dan jauhkanlah dari perkataan yang kotor dan cegahlah dari tertawa kecuali pada waktunya dan janganlah biasakan menghabiskan waktu kecuali untuk sesuatu yang kamu anggap manfaat tanpa harus membuat mereka bersedih dan mematikan kreatifitas mereka. Janganlah terlalu toleran agar anak terbiasa dengan hal itu dan luruskan sebisa mungkin dengan cara persuasiv dan penuh lemah-lembut. Akan tetapi bila membangkang kamu harus bersifat tegas dan keras” Belajar merupakan suatu proses perubahan sikap dan kemampuan dalam diri individu baik aktual (actual ability) maupun potensial (potential ability). Perubahan itu dasarnya berupa didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu relatif lama dan terjadi karena usaha bukan kebetulan. Seiring dengan perubahan paradigma pembelajaran dari guru sebagai pusat pembelajaran (teacher center) menjadi siswa sebagai pusat pembelajaran (student center), serta dari teaching ke learning, menempatkan guru sebagai pembelajar dan fasilitator pembelajaran. Dalam hal ini guru harus menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif agar terjadi proses “transfer of learning” maupun “transfer of thinking”, membelajarkan bagaimana cara belajar dan bagaimana cara berfikir, dalam pengembangan potensi secara kreatif sesuai kebutuhan belajar peserta didik. Hanya dengan dua “Keterampilan Super” itulah peserta didik akan mampu mengatasi perubahan dan kompleksitas kehidupan kini dan masa mendatang. Berikut ini beberapa peran guru sebagai pendidik dalam menumbuhkan kreatifitas belajar peserta didik antara lain:
Pendekatan persuasiv dari hati-ke hati, menciptakan atmosfir belajar yang menyenangkan, belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar, agar anak terhindar dari STRESS. Penelitian menemukan bahwa 80 % anak yang mengalami kesulitan belajar disebabkan karena stress. Sumber: Kaifa Turabbii Waladan Sholihan. * Praktisi dan pemerhati pendidikan anak * Staf ahli Lembaga Pendidikan Tridaya • buat komentar untuk artikel ini |



